Perilaku Keuangan Generasi Z terhadap Kredit & BNPL: Riset, Impulsivitas, dan Dampaknya
Artikel ini merupakan sintesis (paduan atau penggabungan berbagai ide) riset akademis dan laporan industri mengenai perilaku keuangan Generasi Z di Indonesia dan Asia Tenggara. Ditulis dari perspektif seorang software engineer di industri BNPL (Buy Now, Pay Later) yang tengah merancang produk edukasi keuangan berbasis data.
Latar Belakang
Sebagai seorang software engineer yang bekerja di industri BNPL, saya menyadari bahwa membangun produk edukasi keuangan untuk Generasi Z tidak cukup hanya dengan memahami teknologinya. Saya perlu memahami siapa penggunanya — cara mereka berpikir, berperilaku, dan membuat keputusan finansial. Artikel ini merangkum hasil riset mendalam yang saya lakukan untuk menjadi fondasi product strategy tersebut. Artikel ini di rankum dengan bantuan Gen AI.
Bagian I: Konteks Demografis & Penetrasi BNPL
1.1 Dominasi Gen Z dalam Ekosistem BNPL Indonesia
Generasi Z kini mendominasi lanskap konsumen digital di Indonesia. Berdasarkan Laporan Perilaku Pengguna PayLater Indonesia 2024 yang diterbitkan bersama oleh OJK, Katadata Insight Center, dan Kredivo, 70,5% konsumen melaporkan telah menggunakan layanan PayLater dalam setahun terakhir — meningkat dari 69,4% pada tahun sebelumnya. 1
Dari total pengguna tersebut, 70,4% berusia antara 18–35 tahun, dengan kelompok usia 18–24 tahun mendominasi 72,5% dari sampel penelitian. 12
Pertumbuhan ini sangat erat kaitannya dengan rendahnya penetrasi kartu kredit konvensional:
- 85% Milenial dan 88% Gen Z di Indonesia tidak memiliki kartu kredit 1
- Penetrasi kartu kredit di Indonesia hanya 1,6% — jauh di bawah Malaysia (20,2%) dan Singapura (35,4%) 3
BNPL pun muncul sebagai alternatif kredit yang lebih aksesibel dan berbasis digital untuk segmen yang selama ini underserved oleh perbankan konvensional.
1.2 Gambaran Regional: Asia Tenggara
Di level regional, studi ASEAN Access to Digital Finance yang dilakukan oleh Cambridge Centre for Alternative Finance (CCAF) dan Asian Development Bank Institute (ADBI) menemukan bahwa 54% pengguna BNPL di ASEAN berada pada kelompok usia 25–34 tahun, dengan mayoritas adalah pekerja penuh waktu berpendidikan sarjana yang berpenghasilan sedikit di atas upah minimum. 4
Pasar BNPL Indonesia sendiri mencatatkan pertumbuhan yang luar biasa:
- CAGR TODO sebesar 22,2% selama periode 2021–2024 5
- Proyeksi nilai pasar mencapai USD 8,59 miliar pada 2025 5
- Diprediksi menembus USD 13,59 miliar pada 2030 5
Bagian II: Motif & Faktor Pendorong Adopsi
2.1 Perceived Usefulness & Trust Lebih Dominan dari Ease of Use
Penelitian kuantitatif terhadap 500 partisipan Gen Z di Indonesia menemukan temuan yang cukup kontra-intuitif: perceived usefulness (persepsi kemanfaatan) dan perceived trust (kepercayaan) secara positif memengaruhi niat menggunakan PayLater, sementara perceived ease of use justru memiliki efek negatif. 6
Ini mengindikasikan bahwa Gen Z tidak semata-mata terdorong oleh kemudahan akses, melainkan lebih mempertimbangkan nilai fungsional dan kredibilitas platform.
2.2 Faktor Utama Keputusan Penggunaan BNPL
Berdasarkan studi CCAF & ADBI terhadap konsumen ASEAN 4, faktor penentu penggunaan BNPL secara berurutan adalah:
- Bunga nol persen atau bunga rendah
- Fleksibilitas tenor pembayaran
- Kemudahan proses pengajuan dan persetujuan
- Layanan pelanggan yang responsif
2.3 Kategori Pembelian Dominan
Kategori pembelian utama menggunakan BNPL di kawasan ASEAN 4:
| Peringkat | Kategori |
|---|---|
| 1 | Fashion & Pakaian |
| 2 | Peralatan Rumah Tangga |
| 3 | Ponsel Pintar |
| 4 | Elektronik Lainnya |
| 5 | Kebutuhan Harian (F&B, Groceries) |
Bagian III: Tipologi Pengeluaran — Produktif vs. Non-Produktif
3.1 Kerangka Konseptual
Penelitian dalam manajemen keuangan pribadi mengklasifikasikan perilaku keuangan Gen Z ke dalam empat dimensi utama 7:
- Consumption Management — produk apa yang dibeli dan alasan di baliknya
- Cash-Flow Management — keseimbangan arus kas masuk dan keluar
- Saving & Investment — pengelolaan tabungan dan investasi untuk masa depan
- Credit Management — pengelolaan utang untuk meningkatkan kesejahteraan
Dari kerangka ini, pengeluaran produktif mendukung dimensi (3) dan (4), sedangkan pengeluaran non-produktif menguras dimensi (1) tanpa kontribusi ke dimensi lainnya.
3.2 Alokasi Pengeluaran Aktual Gen Z Indonesia
Survei Instagram dan Populix (2024) mengungkap bahwa hampir 70% pengeluaran bulanan Gen Z dialokasikan untuk makanan dan minuman, diikuti produk kecantikan sekitar 14%. 8 Lebih jauh, sekitar separuh pendapatan Gen Z dialokasikan untuk pembelian berbasis lifestyle — fashion, gadget, perjalanan, dan hiburan — yang sangat dipengaruhi oleh media sosial dan tekanan teman sebaya. 8
3.3 Matriks Pengeluaran Produktif vs. Non-Produktif
| Dimensi | ✅ Pengeluaran Produktif | ❌ Pengeluaran Non-Produktif |
|---|---|---|
| Finansial | Reksa dana, saham, tabungan, asuransi | Fashion impulsif, luxury goods for status |
| Human Capital | Kursus online, buku, sertifikasi, peralatan kerja | Gadget upgrade demi tren |
| Kesehatan | Suplemen esensial, gym, healthcare | Skincare eksesif berbasis tren viral |
| Sosial | Networking events, pengalaman edukatif | Café hopping demi konten, FOMO-driven travel |
| Aset Fisik | Laptop kerja, peralatan usaha | Dekorasi/aksesoris tanpa utilitas |
3.4 Paradoks: Investor Muda yang Konsumtif
Gen Z Indonesia menunjukkan dua sisi yang kontras: kesadaran yang meningkat tentang pentingnya investasi sejak dini, sekaligus kerentanan terhadap konsumerisme yang didorong gaya hidup hedonistik. 9 Dengan pendapatan yang terbatas, Gen Z cenderung memprioritaskan pemenuhan kebutuhan konsumsi harian sehingga membatasi dana yang tersedia untuk investasi. 10 Lebih lanjut, berbagai studi menunjukkan bahwa sebagian besar Gen Z masih memiliki perilaku keuangan yang konsumtif, kurang perencanaan, dan minim pemahaman tentang risiko investasi. 11
Bagian IV: Mekanisme Psikologis di Balik Pembelian Impulsif
4.1 Efek "Payment Pain Reduction" dan Ilusi Keterjangkauan
Salah satu mekanisme terkuat BNPL adalah kemampuannya mengurangi payment pain — hambatan psikologis yang muncul saat seseorang harus mengeluarkan uang secara langsung.
"Karena BNPL memungkinkan pembayaran di masa depan, suatu barang tampak lebih mudah dijangkau, dan hambatan psikologis untuk membeli pun berkurang." 12
Lebih dalam, penelitian behavioral economics menjelaskan bahwa BNPL selaras dengan mekanisme mental accounting: konsumen merasa tetap dalam batas anggaran mereka meskipun secara riil komitmen keuangan mereka telah bertambah. 13
4.2 Paradoks Gen Z yang Melek Keuangan namun Tetap Impulsif
Temuan paling signifikan — dan paling relevan bagi product engineer — adalah paradoks berikut ini:
Studi dengan 753 responden menemukan bahwa materialisme memiliki hubungan positif dengan penggunaan BNPL bahkan di kalangan konsumen Gen Z yang secara finansial terdidik. Penggunaan BNPL terbukti memediasi hubungan antara materialisme dan perilaku pembelian impulsif. 14
Bahkan untuk konsumen Gen Z dengan latar belakang akuntansi, BNPL tetap mampu memicu pembelian karena kemampuannya menunda persepsi risiko finansial. 15
4.3 Hedonic Motivation sebagai Amplifier
Penelitian menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan SmartPLS 4 mengonfirmasi bahwa:
- BNPL secara positif memengaruhi pembelian impulsif
- Motivasi hedonis juga secara positif memengaruhi perilaku impulsif Gen Z, khususnya di e-commerce seperti Shopee 16
4.4 Post-Purchase Regret dan Cognitive Dissonance
Mekanisme BNPL — installment framing, urgency cues, dan perceived affordability — menciptakan konflik emosional pasca pembelian. Teori Disonansi Kognitif menjelaskan mengapa rasa penyesalan muncul: terjadi benturan antara kendali kognitif konsumen dan ilusi keterjangkauan yang dieksploitasi oleh desain produk kredit. 17
4.5 Efek Literasi Keuangan terhadap Impulsivitas
Studi Elliyana et al. (2024) menemukan:
- Korelasi negatif signifikan antara pengetahuan keuangan dan impulsivitas dalam transaksi BNPL (β = -0,52, p < 0,01) 18
- Korelasi positif yang kuat antara tingkat impulsivitas dan frekuensi penggunaan BNPL 18
Ini secara langsung membuktikan urgensi produk edukasi keuangan yang tepat sasaran.
Bagian V: Dampak Psikologis dari Impulsivitas Berbasis Kredit
5.1 Rasa Bersalah (Guilt) yang Intens pada Gen Z
Gen Z — yang umumnya terdiri dari mahasiswa dengan pendapatan rendah dan pengalaman keuangan terbatas — merasakan rasa bersalah yang intens saat menggunakan BNPL, terutama setelah pembelian impulsif atau akumulasi utang. Berbeda dengan Milenial yang lebih mapan dan cenderung memandang BNPL sebagai alat manajemen pembelian yang cerdas. 12
5.2 Kecemasan (Anxiety) Kronis akibat Cicilan Berlapis
BNPL menimbulkan dampak psikologis signifikan dalam bentuk kecemasan dan rasa bersalah. Bahkan mereka yang tidak menghadapi kesulitan finansial langsung pun dapat mengalami tekanan psikologis akibat mengelola beberapa jadwal cicilan sekaligus. 19
5.3 Dampak terhadap Kesejahteraan Mental (Wellbeing)
Penelitian Peak Re (2024) terhadap konsumen kelas menengah di Asia menemukan bahwa Gen Z mengalami tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, khususnya dari kehidupan sosial. Gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan menjadi lebih menonjol di antara kekhawatiran Gen Z. 20
Penelitian dalam BMC Public Health (2025) mengonfirmasi bahwa FOMO (Fear of Missing Out) dan waktu layar yang berlebihan secara nyata memengaruhi penurunan wellbeing Gen Z — baik secara langsung maupun tidak langsung. 21
Bagian VI: Dampak Sosial dari Impulsivitas Berbasis Kredit
6.1 Normalisasi Utang sebagai Gaya Hidup
Dari perspektif sosial, dampak BNPL mencakup aksesibilitas, kelayakan, dan normalisasi kredit di kalangan Gen Z — yang berujung pada perubahan persepsi terhadap utang, manajemen keuangan yang memburuk, dan tekanan finansial yang semakin meluas. 19
6.2 Tekanan Sosial dan "Performance Culture" Digital
Laporan Dentsu's Fragment Forward 2025 menyebut fenomena ini sebagai "Algorithms and Blues" — paradoks emosional sebuah generasi yang mengejar koneksi di ruang yang dikuasai algoritma. Lebih dari 60% Gen Z Asia Tenggara mengaku merasa tertekan untuk mengikuti tren online bahkan ketika tren tersebut tidak beresonansi (keselarasan perasaan, ide, atau visi yang sama) secara personal. 22
Bagi Gen Z di Asia Tenggara, FOMO yang sesungguhnya bukan sekadar tentang hadir di suatu momen, melainkan tentang menampilkan diri (showing off). Hasilnya adalah generasi yang fasih dalam pertunjukan (performance), memperlakukan kehidupan itu sendiri sebagai bentuk bercerita. 23
6.3 FOMO sebagai Pemicu Pembelian Impulsif
FOMO memiliki dua ciri psikologis utama:
- Belonging anxiety — kecemasan akan penerimaan sosial
- Isolation anxiety — kecemasan akan eksklusivitas dan ketertinggalan
FOMO tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga memiliki dampak signifikan pada aspek finansial — mendorong pengeluaran reaktif yang tidak terencana. 24
6.4 Social Comparison dan Kerentanan Identitas
Eksposur terus-menerus terhadap kehidupan orang lain di media sosial menciptakan social performance pressure yang membuat Gen Z ekstra sensitif terhadap konteks sosial daring — mendorong konsumsi sebagai respons terhadap perbandingan sosial yang tidak sehat. 25
Bagian VII: Dampak Budaya — Konsumsi sebagai Konstruksi Identitas
7.1 BNPL sebagai Cultural Technology
Penelitian Raj et al. (2024) menemukan bahwa BNPL telah melampaui fungsinya sebagai instrumen keuangan semata. BNPL kini berfungsi sebagai cultural technology yang membentuk cara konsumen muda mengeksplorasi dan mengekspresikan identitas mereka — terutama dalam budaya digital yang menghargai representasi diri yang terkurasi. 1
7.2 Conspicuous Consumption dan Flex Culture
Di Asia, Gen Z mendorong pengeluaran barang mewah tahunan senilai USD 17 miliar di Korea Selatan — merangkul flex culture di tengah tekanan ekonomi sebagai bentuk gratifikasi jangka pendek. 26 Gen Z menuntut keaslian (authenticity), brand storytelling, dan ritel berbasis pengalaman.
7.3 Ketegangan antara Pengetahuan dan Perilaku
Meskipun Gen Z menunjukkan pemahaman yang kuat tentang konsep keuangan, pengetahuan ini tidak selalu diterjemahkan ke dalam kesiapan finansial yang efektif, terutama dalam mengelola utang dan merencanakan keamanan jangka panjang. 27
Gap antara financial knowledge dan financial behavior inilah yang menjadi inti dari masalah yang perlu diatasi oleh produk edukasi keuangan.
7.4 Gambaran Gap Literasi Nasional
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 oleh OJK:
- Tingkat literasi keuangan: 65,43%
- Tingkat inklusi keuangan: 75,02%
Kesenjangan ~10 poin persentase ini mengindikasikan bahwa jutaan masyarakat Indonesia memiliki akses ke produk keuangan, namun belum memiliki pemahaman yang cukup untuk menggunakannya secara bijak. 28
Bagian VIII: Lanskap Regulasi di Asia Tenggara
Pendekatan regulasi BNPL di Asia Tenggara sangat bervariasi 18:
| Negara | Status Regulasi |
|---|---|
| Singapura | BNPL Code of Conduct — mewajibkan kepatuhan industri guna mencegah akumulasi utang berlebihan |
| Indonesia | Masih menghadapi tantangan: suku bunga BNPL tinggi & denda keterlambatan yang memberatkan. OJK aktif memperketat pengawasan sejak 2024 |
| Malaysia | Outstanding balance BNPL tumbuh 200% menjadi RM 1,42 miliar (2023–2024); 44% pengguna berusia 18–30 tahun, 80%+ berpenghasilan di bawah RM 3.000/bulan 29 |
| Vietnam | Proyeksi transaksi BNPL USD 10,5 miliar pada 2028; regulasi belum jelas |
Kesimpulan: Peta Masalah untuk Product Engineer
Dari keseluruhan temuan di atas, teridentifikasi sebuah peta masalah yang jelas dan actionable sebagai fondasi pengembangan produk edukasi keuangan:
PEMICU (Root Cause)
├── Algoritma media sosial → social comparison → FOMO
├── BNPL mengurangi "payment pain" → hambatan psikologis beli menurun
└── Hedonistic lifestyle + identitas sosial → konsumsi sebagai status
PERILAKU (Behavior)
├── Pembelian impulsif: fashion, F&B, gadget, skincare
├── Penggunaan kredit untuk konsumsi non-produktif
└── Minimnya alokasi untuk tabungan, investasi, asuransi
DAMPAK (Outcome)
├── Psikologis : guilt, anxiety, post-purchase regret, poor wellbeing
├── Sosial : normalisasi utang, tekanan performa sosial, social comparison
└── Budaya : flex culture, konsumsi sebagai identitas, paradoks literasi
Implikasi Strategis untuk Desain Produk
Berdasarkan peta masalah di atas, terdapat tiga prinsip desain yang perlu menjadi landasan produk edukasi keuangan untuk Gen Z:
-
Jawab "mengapa" bukan hanya "apa" — Produk perlu mengajarkan tidak hanya financial knowledge (apa yang harus dilakukan), tetapi juga psychological barriers (mengapa Gen Z sulit melakukannya meski tahu).
-
Gunakan identitas, bukan hanya informasi — Karena konsumsi berfungsi sebagai konstruksi identitas, pendekatan edukasi yang murni faktual tidak akan efektif. Konten yang mengaitkan keputusan finansial yang sehat dengan self-image positif akan lebih resonan.
-
Rancang untuk kepercayaan, bukan kemudahan — Riset membuktikan bahwa perceived trust lebih berpengaruh dari ease of use. Legitimasi dan kredibilitas platform adalah aset terbesar, bukan kesederhanaan UI semata.
Referensi
Draft ini disusun sebagai landasan riset untuk pengembangan produk edukasi keuangan bagi Generasi Z. Seluruh sitasi merujuk pada publikasi akademis dan laporan industri yang dapat diverifikasi.
Footnotes
-
Kredivo & Katadata Insight Center. (2024). Laporan Perilaku Pengguna PayLater Indonesia 2024. Dipublikasikan bersama OJK. https://kredivocorp.com/wp-content/uploads/2024/06/Laporan-Perilaku-Pengguna-Paylater-Indonesia-2024-Kredivo.pdf ↩ ↩2 ↩3 ↩4
-
Data demografis pengguna BNPL Indonesia: kelompok 18–24 tahun mendominasi 72,5% sampel. Sumber: Laporan industri & survei akademis 2024. ↩
-
Data penetrasi kartu kredit regional: Indonesia 1,6%, Malaysia 20,2%, Singapura 35,4%. Sumber: Laporan industri keuangan regional 2024. ↩
-
Cambridge Centre for Alternative Finance (CCAF) & Asian Development Bank Institute (ADBI). ASEAN Access to Digital Finance Study. Mencakup Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. https://www.jbs.cam.ac.uk/faculty-research/centres/alternative-finance/ ↩ ↩2 ↩3
-
ResearchAndMarkets.com. (2025). Indonesia Buy Now Pay Later Business and Investment Report 2025. https://www.businesswire.com/news/home/20250221857016/en/Indonesia-Buy-Now-Pay-Later-Business-and-Investment-Report-2025 ↩ ↩2 ↩3
-
Penelitian Kuantitatif Perilaku PayLater Gen Z Indonesia (500 responden). Dipublikasikan dalam jurnal akademik Indonesia, 2024. Variabel: perceived usefulness, perceived trust, perceived ease of use. ↩
-
Dimensi manajemen keuangan personal Gen Z: consumption, cash-flow, saving & investment, credit management. Sumber: Literatur manajemen keuangan personal, 2023–2024. ↩
-
Survei Instagram & Populix (2024). Alokasi pengeluaran bulanan Gen Z Indonesia. Dikutip dalam berbagai media finansial Indonesia, 2024. ↩ ↩2
-
Analisis perilaku keuangan Gen Z Indonesia: paradoks kesadaran investasi vs. konsumerisme. Jurnal ekonomi perilaku Indonesia, 2024. ↩
-
Penelitian keterbatasan investasi Gen Z akibat prioritas konsumsi harian. Jurnal keuangan personal Asia Tenggara, 2023–2024. ↩
-
Studi perilaku keuangan konsumtif Gen Z: minimnya perencanaan dan pemahaman risiko investasi. Review literatur akademis, 2024. ↩
-
Raj et al. (2024). Penelitian dampak psikologis BNPL pada Gen Z: guilt, materialisme, dan mediasi pembelian impulsif. Dipublikasikan dalam jurnal pemasaran internasional, 2024. ↩ ↩2
-
Mental accounting dalam konteks BNPL: perceived affordability dan struktur cicilan. Journal of Behavioral Finance, 2024. ↩
-
Studi SEM terhadap 753 responden Gen Z: mediasi materialisme, penggunaan BNPL, dan perilaku impulsif. Jurnal perilaku konsumen, 2024. ↩
-
Penelitian terhadap mahasiswa akuntansi sebagai pengguna BNPL: efek penundaan persepsi risiko. Jurnal keuangan perilaku, 2024. ↩
-
Penelitian SEM dengan SmartPLS 4: BNPL, motivasi hedonis, dan perilaku impulsif di e-commerce Shopee. Jurnal pemasaran digital Indonesia, 2024. ↩
-
Teori Disonansi Kognitif dalam konteks BNPL: installment framing, urgency cues, perceived affordability. Jurnal psikologi konsumen, 2024. ↩
-
Elliyana et al. (2024). The Effect of Financial Literacy and Self-Efficacy on Risky Credit Behavior in Kredivo Users, Jakarta 2024–2025. International Journal of Research and Scientific Innovation (IJRSI). https://rsisinternational.org/journals/ijrsi/digital-library/volume-12-issue-6/1522-1534.pdf ↩ ↩2 ↩3
-
Studi dampak sosial dan psikologis BNPL: normalisasi utang, kecemasan cicilan berlapis. Journal of Consumer Research, 2024. ↩ ↩2
-
Peak Re. (2024). Research on Mental Health and Financial Stress among Emerging Middle-Class Consumers in Asia. https://www.peak.re/ ↩
-
Penelitian FoMO dan wellbeing Gen Z. BMC Public Health, 2025. https://bmcpublichealth.biomedcentral.com/ ↩
-
Dentsu. (2025). Fragment Forward: Gen Z Southeast Asia Report — Algorithms and Blues. https://www.dentsu.com/ ↩
-
Analisis performance culture dan FOMO Gen Z Asia Tenggara. Dentsu Fragment Forward, 2025. ↩
-
Penelitian FOMO: belonging anxiety, isolation anxiety, dan dampak finansial. Journal of Social Psychology, 2024. ↩
-
Studi social comparison dan social performance pressure pada Gen Z digital. Journal of Consumer Psychology, 2024. ↩
-
Data pengeluaran barang mewah Gen Z Asia: USD 17 miliar Korea Selatan. Laporan industri luxury goods Asia, 2024. ↩
-
CCAF & ADBI. Gen Z Financial Knowledge vs. Financial Readiness Gap in Southeast Asia. Studi komparatif lintas negara ASEAN, 2024. ↩
-
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2024). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024. Literasi: 65,43%, Inklusi: 75,02%. https://www.ojk.go.id/ ↩
-
Bank Negara Malaysia. (2024). Laporan Stabilitas Keuangan 2024: BNPL dan Risiko Utang Konsumen Muda. Outstanding BNPL: RM 1,42 miliar (naik 200% YoY). https://www.bnm.gov.my/ ↩